Author : Jofania Norma Aisyah
Dosen Pengampu : Desi Nurwidawati, S. Si., M. Sc.
Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Surabaya
Abstrak
Self-Regulated Learning (SRL) atau pembelajaran yang diatur sendiri merupakan kemampuan penting bagi mahasiswa dalam mengelola aspek kognitif, motivasional, dan perilaku mereka untuk mencapai tujuan akademik. Kajian ini membahas konsep SRL berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Zimmerman serta instrumen pengukuran SRL yang banyak digunakan, yaitu Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) dan Learning and Study Strategies Inventory (LASSI). Meskipun kedua skala ini efektif dalam mengukur SRL, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan terkait panjang skala dan kompleksitas instrumen. Kajian ini juga menyoroti implikasi penggunaan instrumen SRL dalam penelitian untuk mendukung pengembangan intervensi pendidikan yang lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan regulasi diri mahasiswa.
Kata kunci : Self-Regulated Learning, instrumen pengukuran, MSLQ, LASSI
Abstract
Self-Regulated Learning (SRL) is an essential skill for students to manage their cognitive, motivational, and behavioral aspects to achieve academic goals. This study discusses the concept of SRL based on the theory proposed by Zimmerman and commonly used SRL measurement instruments, namely the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) and the Learning and Study Strategies Inventory (LASSI). Although both scales are effective in measuring SRL, each has strengths and limitations related to scale length and instrument complexity. This review also highlights the implications of using SRL instruments in research to support the development of more effective educational interventions for enhancing students' self-regulation skills.
Keywords: Self-Regulated Learning, measurement instruments, MSLQ, LASSI
Pendahuluan
Self-Regulated Learning (SRL) adalah kemampuan yang memungkinkan individu untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku dalam rangka mencapai tujuan akademik yang diinginkan (Zimmerman, 2002). SRL merupakan proses aktif dan konstruktif yang dilakukan siswa secara sadar untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi kemajuan belajar mereka. Kemampuan SRL penting dalam lingkungan belajar yang semakin fleksibel dan digital, terutama bagi mahasiswa yang sering menghadapi tuntutan belajar mandiri serta tekanan akademik yang kompleks. Di era modern ini, kemampuan untuk belajar secara mandiri menjadi semakin penting karena mahasiswa dihadapkan dengan sistem pembelajaran yang menuntut adaptasi dan kemampuan mengelola berbagai sumber daya secara mandiri (Panadero, 2017).
Menurut Zimmerman (2000), SRL melibatkan tiga aspek utama yang saling berkaitan, yaitu aspek kognitif, motivasional, dan perilaku. Aspek kognitif mencakup keterampilan dan strategi berpikir yang digunakan untuk memahami dan memproses informasi, seperti penetapan tujuan, pengorganisasian, serta evaluasi diri. Aspek motivasional mencakup keyakinan, sikap, dan perasaan yang mendorong mahasiswa untuk mengelola proses belajar secara konsisten, sementara aspek perilaku berkaitan dengan tindakan-tindakan konkret yang dilakukan, seperti membuat catatan dan mengatur lingkungan belajar (Zimmerman, 2002). Ketiga aspek ini berperan penting dalam menentukan efektivitas proses belajar secara keseluruhan dan sangat bergantung pada kesadaran dan motivasi internal siswa.
Dalam upaya mengukur SRL, beberapa instrumen telah dikembangkan, di antaranya yang banyak digunakan adalah Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) dan Learning and Study Strategies Inventory (LASSI). MSLQ, yang dikembangkan oleh Pintrich et al. (1991), terdiri dari 81 item yang mengukur dua domain utama, yaitu motivasi dan strategi belajar. MSLQ dianggap reliabel dan valid dalam berbagai konteks penelitian pendidikan, namun skala ini memiliki kelemahan karena panjangnya dan tingkat kompleksitas yang tinggi. Selain MSLQ, LASSI adalah instrumen yang digunakan untuk menilai berbagai strategi belajar seperti keterampilan kognitif, manajemen waktu, dan kepercayaan diri dalam belajar. Meskipun LASSI memberikan pandangan komprehensif tentang strategi belajar, instrumen ini juga cukup panjang, yang kadang-kadang menyulitkan proses pengisian oleh mahasiswa (Weinstein, Schulte, & Palmer, 1987).
Kajian ini bertujuan untuk mengulas konsep SRL, instrumen pengukurannya, serta efektivitas masing-masing instrumen dalam mendukung penelitian di bidang pendidikan. Dengan memahami bagaimana SRL diukur dan diterapkan, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan intervensi pendidikan yang lebih efektif untuk mendukung mahasiswa dalam mengelola proses belajar mereka secara mandiri.
Kajian Teori
Definisi Self-regulated Learning
Self-Regulated Learning (SRL) atau pembelajaran yang diatur sendiri merupakan proses di mana individu secara proaktif mengelola aspek kognitif, motivasional, dan perilaku untuk mencapai tujuan belajar yang spesifik. Menurut Zimmerman (2000), SRL adalah kemampuan individu untuk mengontrol dan mengarahkan proses belajar mereka melalui serangkaian langkah yang meliputi perencanaan, pemantauan, dan evaluasi. Dalam model yang dikembangkan Zimmerman, SRL dipandang sebagai kemampuan aktif yang menuntut kesadaran diri, kontrol diri, dan kemampuan refleksi yang memungkinkan pelajar untuk menyesuaikan strategi belajar mereka sesuai kebutuhan dalam upaya mencapai hasil akademik optimal.SRL melibatkan tiga aspek utama yang saling berkaitan, yaitu aspek kognitif, motivasional, dan perilaku (Zimmerman, 2002).
SRL tidak hanya mengacu pada penggunaan strategi belajar tertentu, tetapi juga sikap proaktif dalam pengelolaan proses belajar yang mencakup pengaturan tujuan, perencanaan langkah-langkah, dan evaluasi hasil yang telah dicapai (Zimmerman, 2002). Pintrich (2004) menambahkan bahwa SRL mencerminkan kapasitas individu untuk berpikir secara metakognitif tentang tujuan belajar mereka, mengatur diri untuk mencapai tujuan tersebut, serta mampu menyesuaikan pendekatan belajar berdasarkan hasil yang diperoleh. Dengan demikian, SRL memungkinkan pelajar untuk menjadi lebih mandiri dan efektif dalam belajar, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan akademik.
Aspek-aspek dalam Self-regulated Learning
Menurut Barry J. Zimmerman, self-regulated learning (SRL) melibatkan tiga aspek utama yang membentuk proses belajar yang diatur sendiri oleh pelajar. Tiga aspek ini, yaitu aspek kognitif, motivasional, dan perilaku, memainkan peran penting dalam mengontrol proses belajar secara menyeluruh. Meilani dkk (2017) menjabarkan indikator dari 3 aspek menurut Zimmerman (2002)
1. Aspek Kognitif
Aspek kognitif dalam SRL mencakup keterampilan dan strategi berpikir yang digunakan oleh pelajar untuk memahami dan memproses informasi. Aspek kognitif ini mencakup kemampuan untuk menerapkan strategi belajar dan mempertahankan fokus pada tugas.
1. Menetapkan Tujuan dan Perencanaan
2. Mengulang dan Mengingat
3. Mengorganisasi dan Mentransformasi
4. Evaluasi Diri
2. Aspek Motivasi
Aspek motivasional berkaitan dengan keyakinan, sikap, dan perasaan yang mendorong pelajar untuk belajar secara mandiri. Aspek motivasional berfungsi sebagai energi yang mendorong pelajar untuk mengatur dan menjalankan proses belajar dengan konsisten.
1. Konsekuensi Diri
2. Mencari Bantuan Sosial
3. Mengatur Lingkungan
3. Aspek Perilaku
Aspek perilaku dalam SRL mencakup tindakan dan perilaku yang diambil oleh pelajar untuk mendukung proses belajar. Aspek perilaku ini memastikan bahwa pelajar memiliki kontrol atas faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar mereka.
1. Membuat dan Memeriksa Catatan
2. Mencari Informasi
3. Mereview Catatan dan Buku Teks
4. Lainnya
Metode
Metode literature review untuk mengkaji skala self-regulated learning (SRL) menggunakan pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengeksplorasi dan menilai penelitian yang ada terkait pengukuran dan alat ukur (skala) SRL.
Hasil
Skala
Fokus Utama
Jumlah Item
Dimensi yang Diukur
Reliabilitas
Referensi
Motivated
Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ)
Mengukur
strategi motivasi dan belajar mahasiswa
81
1. Kognitif
(Rehearsal, Elaboration, Critical Thinking)
2. Metakognitif (Planning, Monitoring, Evaluation)
3. Motivasi (Intrinsic Goal Orientation, Task Value)
α = 0.85 -
0.90 untuk skala keseluruhan
Pintrich, P.
R., Smith, D. A. F., Garcia, T., & McKeachie, W. J. (1991). A Manual for
the Use of the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ).
Learning and
Study Strategies Inventory (LASSI)
Menilai berbagai
strategi yang digunakan mahasiswa dalam pembelajaran
77
1.
Keterampilan Kognitif
2. Keterampilan Motivasi
3. Keterampilan Metakognitif (Putera
& Putra, 2019)
4. Manajemen Waktu dan Sumber Daya
α = 0.75 -
0.90 untuk sub-skala, reliabilitas keseluruhan sekitar 0.95.
Weinstein, C.
E., Schulte, A. C., & Palmer, D. R. (1987). The Learning and Study
Strategies Inventory (LASSI).(Kowner, 2002)
Skala
Fokus Utama
Jumlah Item
Dimensi yang Diukur
Reliabilitas
Referensi
Motivated
Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ)
Mengukur
strategi motivasi dan belajar mahasiswa
81
1. Kognitif
(Rehearsal, Elaboration, Critical Thinking)
2. Metakognitif (Planning, Monitoring, Evaluation)
3. Motivasi (Intrinsic Goal Orientation, Task Value)
α = 0.85 -
0.90 untuk skala keseluruhan
Pintrich, P.
R., Smith, D. A. F., Garcia, T., & McKeachie, W. J. (1991). A Manual for
the Use of the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ).
Learning and
Study Strategies Inventory (LASSI)
Menilai berbagai
strategi yang digunakan mahasiswa dalam pembelajaran
77
1.
Keterampilan Kognitif
2. Keterampilan Motivasi
3. Keterampilan Metakognitif
4. Manajemen Waktu dan Sumber Daya
α = 0.75 -
0.90 untuk sub-skala, reliabilitas keseluruhan sekitar 0.95.
Weinstein, C.
E., Schulte, A. C., & Palmer, D. R. (1987). The Learning and Study
Strategies Inventory (LASSI).
Pembahasan
Self-regulated learning (SRL) adalah proses di mana pelajar secara aktif mengelola dan mengarahkan proses belajar mereka, termasuk dalam hal perencanaan, pemantauan, dan evaluasi atas hasil belajar. Zimmerman (2000) mendefinisikan SRL sebagai kemampuan individu untuk mengontrol berbagai aspek dalam pembelajaran, baik kognitif, motivasional, maupun perilaku, dengan tujuan mencapai hasil yang optimal dalam pencapaian pembelajaran. Dalam konteks ini, SRL tidak hanya melibatkan penggunaan strategi belajar tertentu, tetapi juga sikap proaktif yang mencakup pengaturan tujuan, perencanaan, dan refleksi terhadap pencapaian yang telah dilakukan.
Beberapa skala atau instrumen telah dikembangkan untuk mengukur SRL dalam konteks pendidikan. Beberapa instrumen yang banyak digunakan diantaranya adalah:
1. Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ)
MSLQ merupakan salah satu skala yang paling banyak digunakan untuk mengukur motivasi dan strategi belajar. Skala ini dikembangkan oleh Pintrich et al. (1991) dan mencakup dua domain utama, yaitu motivasi dan strategi belajar. MSLQ mengukur variabel-variabel seperti efikasi diri, orientasi tugas, serta keterampilan kognitif yang digunakan pelajar dalam belajar.
Kelebihan : MSLQ telah diuji secara ekstensif dalam berbagai penelitian dan terbukti reliabel dan valid. Alat ini juga memiliki keunggulan karena dapat digunakan di berbagai level pendidikan.
Kekurangan : Meskipun MSLQ komprehensif, instrumen ini cenderung panjang dan kompleks, yang mungkin menyulitkan pengumpulan data di populasi yang lebih besar.
2. Learning and Study Strategies Inventory (LASSI)
LASSI adalah alat ukur yang digunakan untuk menilai keterampilan belajar dan strategi yang digunakan pelajar. Dikenal dengan pendekatannya yang lebih luas, LASSI mengukur berbagai aspek belajar seperti pengaturan waktu, keterampilan metakognitif, dan kepercayaan diri dalam belajar.
Kelebihan : LASSI memberikan gambaran lengkap tentang berbagai keterampilan belajar yang dapat diatur oleh pelajar untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Kekurangan : Seperti MSLQ, instrumen ini cenderung panjang dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pengisian.
3. Implikasi Penggunaan Skala SRL dalam Penelitian
Penggunaan skala SRL memiliki dampak yang signifikan dalam memahami bagaimana pelajar mengatur dan mengelola pembelajaran mereka. Dengan instrumen yang tepat, pendidik dan peneliti dapat memperoleh informasi penting tentang strategi yang digunakan pelajar, serta faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas belajar mereka. Oleh karena itu, memilih alat ukur yang tepat sesuai dengan konteks dan tujuan penelitian sangatlah penting. Lebih lanjut, penelitian yang melibatkan SRL dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan intervensi pendidikan yang lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan regulasi diri pelajar.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, berbagai skala pengukuran SRL memberikan gambaran yang luas tentang bagaimana pelajar mengelola dan mengarahkan proses belajarnya. Meskipun masing-masing skala memiliki kelebihan dan kekurangan, semua instrumen tersebut memiliki nilai penting dalam penelitian pendidikan dan pengembangan strategi belajar yang lebih efektif. Di masa mendatang, penting untuk mengembangkan skala SRL yang lebih efisien dan mudah digunakan, serta mampu mengukur seluruh aspek regulasi diri pelajar secara lebih holistik.
Saran
Sebagai saran, penelitian selanjutnya dapat mengembangkan instrumen Self-Regulated Learning (SRL) yang lebih efisien dan ringkas untuk mengatasi kendala panjang dan kompleksitas skala MSLQ dan LASSI. Instrumen baru sebaiknya mempertahankan validitas dan reliabilitas tinggi agar hasil pengukuran tetap akurat tanpa membebani responden. Selain itu, disarankan agar skala SRL diuji pada populasi mahasiswa dengan latar belakang akademik dan budaya yang berbeda, mengingat pengaruh besar konteks terhadap kemampuan SRL. Penggunaan instrumen SRL juga akan lebih bermanfaat jika diterapkan dalam program intervensi pendidikan untuk meningkatkan regulasi diri mahasiswa, misalnya melalui pelatihan strategi belajar atau peningkatan motivasi. Terakhir, penelitian longitudinal yang mengamati perkembangan SRL seiring waktu dapat memberikan wawasan penting tentang pola perubahan regulasi diri mahasiswa sepanjang studi mereka.
Daftar Pustaka
Zimmerman, B. J.
(2002). Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview. Theory into
Practice, 41, 64-70. http://dx.doi.org/10.1207/s15430421tip4102_2
Zimmerman, BJ
(2000). Mencapai Pengaturan Diri: Perspektif Kognitif Sosial. Dalam M.
Boekaerts, PR Pintrich, & M. Zeidner (Eds.), Handbook of Self-Regulation
(hlm. 13-39). San Diego, CA: Academic Press. http://dx.doi.org/10.1016/B978-012109890-2/50031-7
Pintrich, P.,
Smith, D., García, T., & McKeachie, W. (1991). A manual for the use of
the motivated strategies for learning questionnaire (MSLQ). Ann Arbor, MI:
University of Michigan.
Weinstein, C. E., Palmer, D., & Schulte, A. C. (1987). Learning and Study Strategies Inventory (LASSI). H & H Publishing.
Meilani, D., & Cakrawati, D. (2017). Analisis Faktor-Faktor Self Regulated Learning Mahasiswa Setelah Menggunakan Aplikasi Sistem Pembelajaran Online SPOT. EDUFORTECH, 2(2), 77-87.
Pintrich, P. R. (2004). A Conceptual Framework for Assessing Motivation and Self-Regulated Learning in College Students. Educational Psychology Review, 16(4), 385-407. https://link.springer.com/article/10.1007/s10648-004-0006-x
Panadero, E. (2017). A Review of Self-regulated Learning: Six Models and Four Directions for Research. Frontiers in Psychology, 8, 422. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.00422
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.